Monday, April 23, 2007

Permainan masa sekolah by Radon

Permainan-Permainan Masa Sekolah (1)

Saya mencoba mengingat permainan-permainan yang saya kenal semasa sekolah dulu. Dalam tulisan ini, saya batasi untuk permainan-permainan “indoor” atau yang bisa dan biasa dimainkan di dalam kelas saja.

Catur Jawa
Jumlah pemain: 2 orang.

Cara bermain: masing-masing pemain menggerakkan pion (bisa batu, penghapus, rautan) menurut jalurnya secara bergantian. Satu gerakan tiap kesempatan, sampai bisa membentuk garis lurus—horizontal, vertikal, atau diagonal. Satu aturan: membentuk garis horizontal di tempat awal nggak dianggap memenangkan pertandingan.

Tambahan: saya kenal permainan ini saat SD. Sangat sederhana—hanya butuh modal 6 buah batu atau barang-barang lain. Permainan ini dulu sempat jadi primadona pas SD. Selain bisa dimainkan di kelas; di luar kelas, terutama di lapangan juga bisa. Kalau di luar kelas, perlu tempat yang ada tanahnya, dengan modal 6 batu kecil dan sebatang dahan pohon untuk menggambar arenanya.

Sayangnya permainan ini terlalu sederhana, jadi cepat bosan. Makanya di SMP atau SMA, saya sudah nggak menjumpai lagi teman-teman yang memainkan catur Jawa. Anda bisa mencoba download flash game catur Jawa hasil karya Beligerin dari Baba Forum di sini.

SOS
Jumlah pemain: normalnya 2

Cara bermain: di selembar kertas yang sudah dibuat kotak-kotak, masing-masing pemain bergantian mengisi kotak-kotak tersebut dengan huruf “S” atau “O”. Yang menang adalah yang paling banyak membuat deretan “SOS”, baik horizontal, vertikal maupun diagonal sampai “arenanya” penuh.

Tambahan: Ini pun permainan SD. Tapi sampai SMP awal masih cukup populer. Karena nggak terlalu rumit, terkadang aturannya dimodifikasi sedikit: tujuannya bukan lagi “SOS”, tapi “SOSOS”.

ABC 5 Dasar
Jumlah pemain: idealnya 2 sampai 5 orang

Cara bermain: Ini permainan kosakata dan hapalan. Di awal permainan, pemain harus menyepakati kategori-kategori yang harus ditebak. Misal: 3 kategori, nama hewan, nama pemain bola, dan nama negara.

Lalu, sembari meneriakkan “a be ce lima daaassaarr”, masing-masing pemain mengeluarkan angka 1-10 dengan jari-jari tangannya. Jumlah angka tersebut menentukan suatu huruf yang akan dipakai.

Penilaiannya memiliki aturan tersendiri. Nilai maksimum adalah 100, minimum 0. kalau jawaban “Kewell” dijawab hanya oleh satu orang, maka dia berhak dapat 100. Tapi kalau ada 2 orang, maka masing-masing 50, dan seterusnya.

Tambahan: menurut saya, ini salah satu permainan legendaris. Namanya mungkin bisa beda di setiap daerah, tapi permainan ini ada dari SD, bahkan sampai SMA.

Tebak Kata

Jumlah pemain: 1 game master dan penebak (sekitar 2-5 orang)

Cara bermain: game master (perannya bisa bergiliran) menyimpan satu kata. Di awal permainan bisa dibuat perjanjian terlebih dahulu tentang kata yang akan dimainkan. Bisa bertopik nama pemain sepak bola, nama presiden, nama negara, kata dalam bahasa Inggris, atau lainnya.

Lalu game master membuat garis-garis horizontal yang berjajar sejumlah huruf dalam kata tersebut. Misalnya game master menyimpan kata “sapi”, maka garis yang dibuat berjumlah 4.

Permainan dimulai dengan peserta menebak-nebak huruf secara bergiliran. Misalnya jika peserta menebak “a”, maka game master akan menuliskan huruf “a” di garis kedua, sesuai letak huruf “a” di “sapi”, dan seterusnya. Hanya saja, jumlah tebakan yang salah nggak boleh lebih dari jumlah huruf yang ada—4 dalam hal ini.

Tambahan: Permainan ini nggak terlalu spesial sebenarnya. Dulu sering dimainkan di masa SD dan SMP awal.

Angka-Tempat (AT)
Jumlah pemain: 2 orang

Cara bermain: masing-masing orang menyimpan sebuah kombinasi angka-angka yang terdiri dari 4 digit. Satu angka nggak boleh muncul dua kali—jadi, ada 5040 kemungkinan. Nah, kemudian masing-masing pemain mencoba menebak angka milik lawannya. Lawan akan mengecek setiap tebakan, sambil menulis berapa angka yang benar, dan berapa yang benar lokasinya. Yang lebih dulu bisa menebak angka lawannya adalah pemenangnya.

Tambahan: Permainan ini dulu salah satu favorit saya. Sederhana, tapi nggak cepat bikin bosan. Hanya dalam 5 menitan, satu permainan sudah bisa selesai. Jadi, sangat nyaman jadi permainan di dalam kelas—bahkan saat guru sedang mengajar sekali pun. Permainan ini mencapai hits-nya pada awal masa SMA.

Koin-Koinan
Jumlah pemain: minimal 2 orang.

Cara bermain: Dalam setiap giliran pemain, ada 2 babak dalam permainan ini.

Babak pertama, pemain yang sedang mendapat giliran akan menebar 5 koinnya di atas meja. Dia berhak untuk membuang 1 koin pilihannya. Lalu, dari 4 koin sisanya, pemain lain akan menentukan pasangan koin (2 pasang) bagi sang pemain aktif. Pemain aktif kemudian harus menyentil koin untuk mengenai pasangannya. Dalam fase ini, terkadang dibolehkan menggunakan alat bantu, seperti penggaris plastik, selain dengan bantuan tangan untuk membelokkan jalur koin.

Saat menebar koin, terkadang ada banyak kemungkinan:

1. Dua koin bertumpukan
Untuk kasus ini, 2 koin tersebut harus dibuang, dan sang pemain mendapatkan keuntungan dengan hanya harus bermain dengan sepasang koin

2. Tiga koin bertumpukan
Di sini, 3 koin akan disusun menjadi penghalang, lalu 2 koin sisanya akan ditempatkan di antara penghalang itu dengan jarak tertentu (bisa berubah-ubah peraturannya).

3. Empat koin bertumpukan
Saya lupa untuk yang ini :)

Kalau sang pemain lolos di babak pertama—yaitu kalau berhasil menyentil 2 koin dan mengenai pasangan koinnya masing-masing—maka sang pemain berhak untuk masuk ke babak kedua: babak pengumpulan poin.

Di sini, pemain aktif akan memainkan 5 koin tersebut dengan tangannya. 5 koin di telapak tangan, lalu dia harus melontarkannya ke udara, sambil berusaha untuk menerima 5 koin tersebut dengan punggung tangannya saat mendarat. Ada kemungkinan koin yang berhasil didaratkan di punggung tangan kurang dari lima. Dan tugas terakhirnya adalah melontarkannya kembali ke udara, dan kini harus berusaha menangkap koin-koin itu dalam genggaman tangan.

Bagaimana dengan poinnya? Jumlah koin yang ada dalam genggaman terakhir adalah poin yang didapat oleh pemain aktif. Setelahnya, ganti giliran untuk pemain kedua, dan seterusnya.

Pemenang untuk permainan ini adalah yang paling banyak mengumpulkan poin dalam waktu tertentu (misal: sampai guru masuk ke kelas :p)

Tambahan: Permainan ini cukup mengasyikkan. Dulu kalau ada jam kosong ketika SMP, di kelas saya bisa ada sampai 4 atau 5 kelompok yang memainkan permainan ini. Bahkan seingat saya, sampai masa SMA awal, permainan ini masih sering dimainkan di kelas. Mungkin karena kompleksitas aturannya, permainan ini jadi menarik sehingga bertahan cukup lama. Menariknya, konon permainan ini adalah permainan lama—sudah pernah dimainkan sejak zaman orang tua kita.

Adu Jempol (Ayam-Ayaman)
Jumlah pemain: 2 orang

Cara bermain: tangan kanan pemain 1 mengait tangan kanan pemain 2. Lalu, ibu jari yang bebas akan bertarung untuk menundukkan (baca: menjepit) ibu jari lawannya. Kalau berhasil menjepit selama 10 detik, maka dialah pemenangnya.

Tambahan: walaupun dalam teorinya hanya tangan—khususnya ibu jari—yang bergerak, tapi pada prakteknya, badan bagian atas, atau kaki pun bisa ikut bergerak. Hal ini terutama kalau seorang pemain sudah dalam keadaan “terjepit”. Menariknya juga, ibu jari pemain kadang bisa “ngumpet” di punggung tangan, untuk sekadar istirahat.

Jempol
Jumlah pemain: minimal 2 orang

Cara bermain: Masing-masing pemain mengeluarkan kedua tangannya seperti gambar di kiri. Ada 2 jenis peran di permainan ini: aktif, dan pasif.

Saat seorang pemain aktif, maka dia berhak menebak angka dari 0 (nol) sampai maksimum jumlah ibu jari pemain yang ada. Angka yang disebut merujuk pada jumlah ibu jari yang akan diangkat bersamaan dengan pemain aktif menyebut sebuah angka.

Misal: kalau seorang pemain aktif menebak “1”, dan di saat bersamaan hanya ada 1 ibu jari yang terangkat dari 6 yang ada, maka pemain aktif berhak menurunkan satu tangannya. Peran menebak ini bergiliran.

Yang menang adalah yang pertama berhasil menurunkan kedua tangannya.

Tambahan: saya baru mengenal permainan ini ketika SMA. Sederhana, tapi cukup menegangkan. Tentang nama, saya nggak ingat kalau ada namanya. Kadang teman saya sekadar ngomong, “eh, main jempol yuk,” dan semua sudah mengerti.

Keplak Tangan
Jumlah pemain: 2 orang

Cara bermain: Masing-masing pemain mengeluarkan tangannya seperti gambar di atas. Ada 2 peran di sini: yang menyerang, dan yang bertahan. Yang menyerang akan berusaha mengeplak punggung tangan lawannya. Dan yang bertahan bisa bertahan dengan cara membuka tangannya ke atas dan ke bawah seperti gambar di kanan. Penyerang juga bisa menyerang, tapi pura-pura—dengan berhenti di tengah jalan.

Ada 4 kemungkinan:

1. Penyerang mengeplak, lawannya diam --> penyerang mendapat giliran menyerang kembali

2. Penyerang mengeplak, lawannya membuka tangan --> ganti peran

3. Penyerang menipu, lawannya diam --> ganti peran

4. Penyerang menipu, lawannya membuka tangan --> penyerang mendapat giliran mengeplak secara bebas

Nggak ada pemenang di permainan ini. Biasanya sama-sama merah tangannya.

Tambahan: Permainan ini agak sadistik. Biasanya yang jago akan tetap jago, yang nggak jago akan terus meminta supaya permainannya berlanjut sampai tangannya merah banget.

Penutup

Sebenarnya masih banyak permainan lain yang belum saya sebut, termasuk catur, remi, panco, dan lainnya. Bahkan untuk catur, ada teman saya yang dulu sengaja menaruh papan catur di kolong mejanya, dan setiap jam kosong main catur dengan teman sebelahnya. Saya merasa permainan-permainan tersebut nggak orisinil, makanya saya enggan memasukkannya dalam daftar.

Mengingat permainan-permainan seperti ini jadi mengingatkan saya tentang kreativitas anak-anak sekolah dulu ketika jam kosong di kelas. Makanya nggak heran teman satu kelas dulu bisa begitu kompak dalam banyak hal—positif dan negatif.

Mungkin Anda punya permainan lain yang belum saya sebut?

Singapore,
Rabu, 11 April 2007

No comments: