Siap Untuk Menulis?
Seringkali saat saya memerhatikan beberapa dosen saya di School of Electrical and Electronic Engineering, NTU, saya jadi suka bertanya-tanya sendiri. Soalnya, banyak hal-hal yang menarik untuk diamati.
Contohnya, saya membandingkan dosen berinisial SR dengan TKC. Yang pertama adalah orang India yang berperawakan agak gempal, mengajar beberapa kelas tutorial. Sedangkan yang kedua orang lokal. Dari wajahnya, kita bisa tahu kalau TKC masih agak muda untuk memiliki gelar Associate Professor di depan namanya. Mungkin masih pertengahan 30-an usianya. Tapi TKC sudah menjadi salah satu pengajar utama di mata kuliah Signal and System. Bandingkan dengan SR yang kira-kira sudah di pertengahan 40-an. Sampai sekarang SR masih bertitel Assistant Professor.
Pertanyaannya, apa yang membedakan keduanya sehingga yang satu karirnya bisa lebih mulus dibandingkan yang lainnya?
Ada lagi sebuah pemikiran saya yang cukup mengganggu. Selalu sehabis exam, banyak anak NTU—bahkan mayoritasnya—lupa total, atau sengaja menghapus memori tentang rumus-rumus, teknik pengerjaan soal di mata kuliah itu. Sehingga, saat memulai lagi kuliah di semester berikutnya untuk mata kuliah yang masih berhubungan, nggak sedikit waktu yang dikonsumsi sekadar untuk mengulang bahasan semester kemarin. Saya sendiri termasuk yang mengalaminya, tentu saja. Lalu, mengapa bisa seperti itu?
Kagetkah Anda, kalau saya katakan bahwa jawaban kedua pertanyaan tersebut ada kaitannya dengan kebiasaan menulis? Memang, ini hanya pemikiran saya, tapi saya yakin bahwa kebiasaan menulis mempunyai efek yang luar biasa—membuat seseorang cepat dipromosikan menjadi Profesor, dan membuat orang susah lupa akan suatu hal yang dipelajarinya.
Ada setidaknya dua sikap positif yang timbul dari kebiasaan menulis. Yang pertama, sikap “pemaksaan diri” untuk membaca. Mengapa banyak orang yang bilang kalau menulis itu merupakan dimensi pembelajaran yang satu tingkat lebih tinggi dari membaca? Saya pikir, alasannya sederhana: karena dengan menulis, kita juga membaca. Karena kita menulis, kita butuh referensi. Jadinya, kita membaca juga. Dari hanya meniatkan satu aktivitas, kita mendapatkan 2 aktivitas.
Yang lebih istimewa lagi, dengan menulis, sama saja dengan memuseumkan ilmu kita. Seperti memasukkan ilmu-ilmu ke tempat-tempat yang sesuai, membuatnya rapi, dan mempersilakan orang lain untuk melihat koleksi ilmu kita. Tentunya hal ini jauh lebih baik dari sekadar membaca.
Sikap yang kedua adalah seperti yang ditunjukkan Romi Satria Wahono. Pendiri ilmukomputer.com yang menghabiskan S1 sampai S3-nya di Jepang ini dulu ketika kuliah mengaku punya penyakit “rakus ilmu”. Gejalanya adalah suka mengambil mata kuliah jurusan lain. Bahkan, di tahun keempat, beliau sampai ditegur Profesornya agar nggak overdosis SKS. Akhir cerita, secara menakjubkan beliau lulus dengan jumlah SKS 170 dari hanya 118 yang disyaratkan. Dalam blognya, Romi Satria Wahono menyatakan, “Saya suka membaca dan belajar bidang apa pun yang belum saya kuasai... Dan secara tidak sadar, orientasi dalam belajar adalah untuk mengajarkannya kepada orang lain. Begitu membaca sebuah buku, saya selalu berorientasi bagaimana saya membuat penjelasan yang lebih mudah untuk saya sampaikan ke orang lain.”
Inilah sikap kedua yang saya maksudkan: berorientasi menyampaikan. Bahwa setiap kata di buku yang dibaca, setiap ucapan dosen di ruang kuliah, semuanya dipersepsi oleh Romi Satria Wahono demikian. Dalam pikirannya, “gimana ya, biar ucapan dosen ini enak disampaikan ke orang lain?” Luar biasa. Ini sekaligus sebagai jawaban dari pertanyaan kedua yang saya ajukan di awal tulisan ini. Seandainya saja kita belajar dengan persepsi seperti itu, tentunya akan lebih lengket.
Dan, saya percaya bahwa menciptakan kebiasaan menulis adalah salah satu cara menuju cara berpikir seperti itu—belajar untuk disampaikan ke orang lain. Dengan menulis, kita terbiasa menyampaikan. Nggak hanya membaca—yang terkadang nggak ada kelanjutannya kecuali hanya menimbun ilmu. Dan kalau kita bisa menyebut orang yang menimbun beras atau sembako sebagai orang yang egois, maka orang yang hanya menimbun ilmunya pun bisa jadi berhak mendapat sebutan yang sama: egois.
Ya, 2 sikap inilah yang bisa jadi membedakan kecepatan promosi Profesor yang satu dengan yang lainnya. Karena menurut Wikipedia, ada 4 hal yang bisa mempercepat promosi seorang Profesor: mengajar, penelitian, pelayanan masyarakat, dan pelatihan mahasiswa-mahasiswa pasca sarjana. Secara spesifik, bahasan layak tidaknya seseorang dipromosikan sebagai Profesor tergantung pada banyaknya publikasi ilmiah dan patennya. Makanya di NTU ada orang seperti Goh Wang Ling yang masih tampak muda, tapi sudah Associate Professor. Hal ini nggak mengherankan kalau kita lihat CV-nya. Satu buku, 14 paten, dan lebih dari 60 paper adalah buah karyanya.
Bagaimana kebiasaan menulis di Indonesia? Dalam pengamatan saya yang paling sederhana, rasanya kebiasaan menulis kita masih sangat kurang. Lihat saja milis-milis yang kita ikuti. Apakah posting-posting dari membernya lebih banyak tulisan sendiri atau hasil forward dari milis tetangga? Tentu kita lebih tahu.
Ada tulisan yang menarik dari Brian Yuliarto, Doktor lulusan Jepang, yang membahas tentang fenomena publikasi paper di seluruh dunia. Pada negara-negara maju, paper ilmiah yang dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional merupakan salah satu parameter penting untuk mengukur kualitas penelitian—selain tentunya parameter dunia tulis-menulis di tingkat yang lebih tinggi. Dan bagaimana peta persebaran paper-paper di dunia? Majalah Nature 21 Juli 2005 memuat bahwa 25% paper yang terbit di seluruh dunia pada 2004 berasal dari Asia, sedangkan Eropa 38%, dan Amerika 33%. Angka 25% yang ditunjukkan Asia menjadi sangat fenomenal karena kenaikannya yang luar biasa. Faktanya, pada tahun 1990, Asia hanya menerbitkan 16% publikasi paper.
Indonesia? Bisa ditebak. Indonesia pada 2004 hanya menerbitkan 522 paper ilmiah. Dengan angka ini, Indonesia duduk manis di peringkat 4 negara se-Asia Tenggara. Singapore ada di nomor satu dengan 5781 paper, Thailand 2397 paper, dan Malaysia 1438 paper. Sekadar gambaran, Jepang pada 2004 mempublikasikan 83484 paper.
Jadi, siapkah kita untuk menjadi Profesor lebih cepat? (baca: siapkah kita untuk menulis?—pen)
Singapore,
Selasa malam, 15 Agustus 2006
yang juga sedang belajar menulis secara rutin
Monday, April 23, 2007
Belajar Menulis by Radon
Siap Untuk Menulis?
Seringkali saat saya memerhatikan beberapa dosen saya di School of Electrical and Electronic Engineering, NTU, saya jadi suka bertanya-tanya sendiri. Soalnya, banyak hal-hal yang menarik untuk diamati.
Contohnya, saya membandingkan dosen berinisial SR dengan TKC. Yang pertama adalah orang India yang berperawakan agak gempal, mengajar beberapa kelas tutorial. Sedangkan yang kedua orang lokal. Dari wajahnya, kita bisa tahu kalau TKC masih agak muda untuk memiliki gelar Associate Professor di depan namanya. Mungkin masih pertengahan 30-an usianya. Tapi TKC sudah menjadi salah satu pengajar utama di mata kuliah Signal and System. Bandingkan dengan SR yang kira-kira sudah di pertengahan 40-an. Sampai sekarang SR masih bertitel Assistant Professor.
Pertanyaannya, apa yang membedakan keduanya sehingga yang satu karirnya bisa lebih mulus dibandingkan yang lainnya?
Ada lagi sebuah pemikiran saya yang cukup mengganggu. Selalu sehabis exam, banyak anak NTU—bahkan mayoritasnya—lupa total, atau sengaja menghapus memori tentang rumus-rumus, teknik pengerjaan soal di mata kuliah itu. Sehingga, saat memulai lagi kuliah di semester berikutnya untuk mata kuliah yang masih berhubungan, nggak sedikit waktu yang dikonsumsi sekadar untuk mengulang bahasan semester kemarin. Saya sendiri termasuk yang mengalaminya, tentu saja. Lalu, mengapa bisa seperti itu?
Kagetkah Anda, kalau saya katakan bahwa jawaban kedua pertanyaan tersebut ada kaitannya dengan kebiasaan menulis? Memang, ini hanya pemikiran saya, tapi saya yakin bahwa kebiasaan menulis mempunyai efek yang luar biasa—membuat seseorang cepat dipromosikan menjadi Profesor, dan membuat orang susah lupa akan suatu hal yang dipelajarinya.
Ada setidaknya dua sikap positif yang timbul dari kebiasaan menulis. Yang pertama, sikap “pemaksaan diri” untuk membaca. Mengapa banyak orang yang bilang kalau menulis itu merupakan dimensi pembelajaran yang satu tingkat lebih tinggi dari membaca? Saya pikir, alasannya sederhana: karena dengan menulis, kita juga membaca. Karena kita menulis, kita butuh referensi. Jadinya, kita membaca juga. Dari hanya meniatkan satu aktivitas, kita mendapatkan 2 aktivitas.
Yang lebih istimewa lagi, dengan menulis, sama saja dengan memuseumkan ilmu kita. Seperti memasukkan ilmu-ilmu ke tempat-tempat yang sesuai, membuatnya rapi, dan mempersilakan orang lain untuk melihat koleksi ilmu kita. Tentunya hal ini jauh lebih baik dari sekadar membaca.
Sikap yang kedua adalah seperti yang ditunjukkan Romi Satria Wahono. Pendiri ilmukomputer.com yang menghabiskan S1 sampai S3-nya di Jepang ini dulu ketika kuliah mengaku punya penyakit “rakus ilmu”. Gejalanya adalah suka mengambil mata kuliah jurusan lain. Bahkan, di tahun keempat, beliau sampai ditegur Profesornya agar nggak overdosis SKS. Akhir cerita, secara menakjubkan beliau lulus dengan jumlah SKS 170 dari hanya 118 yang disyaratkan. Dalam blognya, Romi Satria Wahono menyatakan, “Saya suka membaca dan belajar bidang apa pun yang belum saya kuasai... Dan secara tidak sadar, orientasi dalam belajar adalah untuk mengajarkannya kepada orang lain. Begitu membaca sebuah buku, saya selalu berorientasi bagaimana saya membuat penjelasan yang lebih mudah untuk saya sampaikan ke orang lain.”
Inilah sikap kedua yang saya maksudkan: berorientasi menyampaikan. Bahwa setiap kata di buku yang dibaca, setiap ucapan dosen di ruang kuliah, semuanya dipersepsi oleh Romi Satria Wahono demikian. Dalam pikirannya, “gimana ya, biar ucapan dosen ini enak disampaikan ke orang lain?” Luar biasa. Ini sekaligus sebagai jawaban dari pertanyaan kedua yang saya ajukan di awal tulisan ini. Seandainya saja kita belajar dengan persepsi seperti itu, tentunya akan lebih lengket.
Dan, saya percaya bahwa menciptakan kebiasaan menulis adalah salah satu cara menuju cara berpikir seperti itu—belajar untuk disampaikan ke orang lain. Dengan menulis, kita terbiasa menyampaikan. Nggak hanya membaca—yang terkadang nggak ada kelanjutannya kecuali hanya menimbun ilmu. Dan kalau kita bisa menyebut orang yang menimbun beras atau sembako sebagai orang yang egois, maka orang yang hanya menimbun ilmunya pun bisa jadi berhak mendapat sebutan yang sama: egois.
Ya, 2 sikap inilah yang bisa jadi membedakan kecepatan promosi Profesor yang satu dengan yang lainnya. Karena menurut Wikipedia, ada 4 hal yang bisa mempercepat promosi seorang Profesor: mengajar, penelitian, pelayanan masyarakat, dan pelatihan mahasiswa-mahasiswa pasca sarjana. Secara spesifik, bahasan layak tidaknya seseorang dipromosikan sebagai Profesor tergantung pada banyaknya publikasi ilmiah dan patennya. Makanya di NTU ada orang seperti Goh Wang Ling yang masih tampak muda, tapi sudah Associate Professor. Hal ini nggak mengherankan kalau kita lihat CV-nya. Satu buku, 14 paten, dan lebih dari 60 paper adalah buah karyanya.
Bagaimana kebiasaan menulis di Indonesia? Dalam pengamatan saya yang paling sederhana, rasanya kebiasaan menulis kita masih sangat kurang. Lihat saja milis-milis yang kita ikuti. Apakah posting-posting dari membernya lebih banyak tulisan sendiri atau hasil forward dari milis tetangga? Tentu kita lebih tahu.
Ada tulisan yang menarik dari Brian Yuliarto, Doktor lulusan Jepang, yang membahas tentang fenomena publikasi paper di seluruh dunia. Pada negara-negara maju, paper ilmiah yang dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional merupakan salah satu parameter penting untuk mengukur kualitas penelitian—selain tentunya parameter dunia tulis-menulis di tingkat yang lebih tinggi. Dan bagaimana peta persebaran paper-paper di dunia? Majalah Nature 21 Juli 2005 memuat bahwa 25% paper yang terbit di seluruh dunia pada 2004 berasal dari Asia, sedangkan Eropa 38%, dan Amerika 33%. Angka 25% yang ditunjukkan Asia menjadi sangat fenomenal karena kenaikannya yang luar biasa. Faktanya, pada tahun 1990, Asia hanya menerbitkan 16% publikasi paper.
Indonesia? Bisa ditebak. Indonesia pada 2004 hanya menerbitkan 522 paper ilmiah. Dengan angka ini, Indonesia duduk manis di peringkat 4 negara se-Asia Tenggara. Singapore ada di nomor satu dengan 5781 paper, Thailand 2397 paper, dan Malaysia 1438 paper. Sekadar gambaran, Jepang pada 2004 mempublikasikan 83484 paper.
Jadi, siapkah kita untuk menjadi Profesor lebih cepat? (baca: siapkah kita untuk menulis?—pen)
Singapore,
Selasa malam, 15 Agustus 2006
yang juga sedang belajar menulis secara rutin
Seringkali saat saya memerhatikan beberapa dosen saya di School of Electrical and Electronic Engineering, NTU, saya jadi suka bertanya-tanya sendiri. Soalnya, banyak hal-hal yang menarik untuk diamati.
Contohnya, saya membandingkan dosen berinisial SR dengan TKC. Yang pertama adalah orang India yang berperawakan agak gempal, mengajar beberapa kelas tutorial. Sedangkan yang kedua orang lokal. Dari wajahnya, kita bisa tahu kalau TKC masih agak muda untuk memiliki gelar Associate Professor di depan namanya. Mungkin masih pertengahan 30-an usianya. Tapi TKC sudah menjadi salah satu pengajar utama di mata kuliah Signal and System. Bandingkan dengan SR yang kira-kira sudah di pertengahan 40-an. Sampai sekarang SR masih bertitel Assistant Professor.
Pertanyaannya, apa yang membedakan keduanya sehingga yang satu karirnya bisa lebih mulus dibandingkan yang lainnya?
Ada lagi sebuah pemikiran saya yang cukup mengganggu. Selalu sehabis exam, banyak anak NTU—bahkan mayoritasnya—lupa total, atau sengaja menghapus memori tentang rumus-rumus, teknik pengerjaan soal di mata kuliah itu. Sehingga, saat memulai lagi kuliah di semester berikutnya untuk mata kuliah yang masih berhubungan, nggak sedikit waktu yang dikonsumsi sekadar untuk mengulang bahasan semester kemarin. Saya sendiri termasuk yang mengalaminya, tentu saja. Lalu, mengapa bisa seperti itu?
Kagetkah Anda, kalau saya katakan bahwa jawaban kedua pertanyaan tersebut ada kaitannya dengan kebiasaan menulis? Memang, ini hanya pemikiran saya, tapi saya yakin bahwa kebiasaan menulis mempunyai efek yang luar biasa—membuat seseorang cepat dipromosikan menjadi Profesor, dan membuat orang susah lupa akan suatu hal yang dipelajarinya.
Ada setidaknya dua sikap positif yang timbul dari kebiasaan menulis. Yang pertama, sikap “pemaksaan diri” untuk membaca. Mengapa banyak orang yang bilang kalau menulis itu merupakan dimensi pembelajaran yang satu tingkat lebih tinggi dari membaca? Saya pikir, alasannya sederhana: karena dengan menulis, kita juga membaca. Karena kita menulis, kita butuh referensi. Jadinya, kita membaca juga. Dari hanya meniatkan satu aktivitas, kita mendapatkan 2 aktivitas.
Yang lebih istimewa lagi, dengan menulis, sama saja dengan memuseumkan ilmu kita. Seperti memasukkan ilmu-ilmu ke tempat-tempat yang sesuai, membuatnya rapi, dan mempersilakan orang lain untuk melihat koleksi ilmu kita. Tentunya hal ini jauh lebih baik dari sekadar membaca.
Sikap yang kedua adalah seperti yang ditunjukkan Romi Satria Wahono. Pendiri ilmukomputer.com yang menghabiskan S1 sampai S3-nya di Jepang ini dulu ketika kuliah mengaku punya penyakit “rakus ilmu”. Gejalanya adalah suka mengambil mata kuliah jurusan lain. Bahkan, di tahun keempat, beliau sampai ditegur Profesornya agar nggak overdosis SKS. Akhir cerita, secara menakjubkan beliau lulus dengan jumlah SKS 170 dari hanya 118 yang disyaratkan. Dalam blognya, Romi Satria Wahono menyatakan, “Saya suka membaca dan belajar bidang apa pun yang belum saya kuasai... Dan secara tidak sadar, orientasi dalam belajar adalah untuk mengajarkannya kepada orang lain. Begitu membaca sebuah buku, saya selalu berorientasi bagaimana saya membuat penjelasan yang lebih mudah untuk saya sampaikan ke orang lain.”
Inilah sikap kedua yang saya maksudkan: berorientasi menyampaikan. Bahwa setiap kata di buku yang dibaca, setiap ucapan dosen di ruang kuliah, semuanya dipersepsi oleh Romi Satria Wahono demikian. Dalam pikirannya, “gimana ya, biar ucapan dosen ini enak disampaikan ke orang lain?” Luar biasa. Ini sekaligus sebagai jawaban dari pertanyaan kedua yang saya ajukan di awal tulisan ini. Seandainya saja kita belajar dengan persepsi seperti itu, tentunya akan lebih lengket.
Dan, saya percaya bahwa menciptakan kebiasaan menulis adalah salah satu cara menuju cara berpikir seperti itu—belajar untuk disampaikan ke orang lain. Dengan menulis, kita terbiasa menyampaikan. Nggak hanya membaca—yang terkadang nggak ada kelanjutannya kecuali hanya menimbun ilmu. Dan kalau kita bisa menyebut orang yang menimbun beras atau sembako sebagai orang yang egois, maka orang yang hanya menimbun ilmunya pun bisa jadi berhak mendapat sebutan yang sama: egois.
Ya, 2 sikap inilah yang bisa jadi membedakan kecepatan promosi Profesor yang satu dengan yang lainnya. Karena menurut Wikipedia, ada 4 hal yang bisa mempercepat promosi seorang Profesor: mengajar, penelitian, pelayanan masyarakat, dan pelatihan mahasiswa-mahasiswa pasca sarjana. Secara spesifik, bahasan layak tidaknya seseorang dipromosikan sebagai Profesor tergantung pada banyaknya publikasi ilmiah dan patennya. Makanya di NTU ada orang seperti Goh Wang Ling yang masih tampak muda, tapi sudah Associate Professor. Hal ini nggak mengherankan kalau kita lihat CV-nya. Satu buku, 14 paten, dan lebih dari 60 paper adalah buah karyanya.
Bagaimana kebiasaan menulis di Indonesia? Dalam pengamatan saya yang paling sederhana, rasanya kebiasaan menulis kita masih sangat kurang. Lihat saja milis-milis yang kita ikuti. Apakah posting-posting dari membernya lebih banyak tulisan sendiri atau hasil forward dari milis tetangga? Tentu kita lebih tahu.
Ada tulisan yang menarik dari Brian Yuliarto, Doktor lulusan Jepang, yang membahas tentang fenomena publikasi paper di seluruh dunia. Pada negara-negara maju, paper ilmiah yang dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional merupakan salah satu parameter penting untuk mengukur kualitas penelitian—selain tentunya parameter dunia tulis-menulis di tingkat yang lebih tinggi. Dan bagaimana peta persebaran paper-paper di dunia? Majalah Nature 21 Juli 2005 memuat bahwa 25% paper yang terbit di seluruh dunia pada 2004 berasal dari Asia, sedangkan Eropa 38%, dan Amerika 33%. Angka 25% yang ditunjukkan Asia menjadi sangat fenomenal karena kenaikannya yang luar biasa. Faktanya, pada tahun 1990, Asia hanya menerbitkan 16% publikasi paper.
Indonesia? Bisa ditebak. Indonesia pada 2004 hanya menerbitkan 522 paper ilmiah. Dengan angka ini, Indonesia duduk manis di peringkat 4 negara se-Asia Tenggara. Singapore ada di nomor satu dengan 5781 paper, Thailand 2397 paper, dan Malaysia 1438 paper. Sekadar gambaran, Jepang pada 2004 mempublikasikan 83484 paper.
Jadi, siapkah kita untuk menjadi Profesor lebih cepat? (baca: siapkah kita untuk menulis?—pen)
Singapore,
Selasa malam, 15 Agustus 2006
yang juga sedang belajar menulis secara rutin
Guruku Sekarat by Radon
Guruku Sekarat
Di Straits Times Selasa lalu, ada berita di halaman depan yang langsung menarik perhatian saya. Tertulis “$250m package to make teaching more attractive.” Ya, S$250 juta untuk peningkatan mutu pendidikan selama 3 tahun ini di Singapore, katanya.
Ini tentunya salah satu upaya pemerintah Singapore untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Mereka ingin menarik sebanyak mungkin minat lulusan-lulusan universitas yang berkualitas, dan juga menahan guru-guru muda yang bagus agar tetap mengajar di sekolah. Karena bagi kelompok yang kedua, banyak yang kemudian meninggalkan profesi mengajarnya dan mengejar karir sebagai profesional.
Uang sebanyak S$250 juta itu salah satunya untuk peningkatan pembayaran insentif atau bonus. Dituliskan, jumlah bonus sampai dengan S$160 ribu akan pindah tangan bagi guru-guru yang bisa bertahan sampai dengan masa pensiun. Selain itu, pembayaran gaji penuh untuk mereka yang cuti untuk pengembangan kualitas diri, misalnya untuk melanjutkan program masternya. Penggantian pengeluaran pribadi untuk urusan pendidikan bisa diklaim sampai dengan S$400-S$700 setiap tahunnya. Masih banyak lagi daftar fasilitas-fasilitas yang dijanjikan MOE (Ministry of Education), yang kalau saya lanjutkan akan membuat guru-guru Indonesia nggak tega untuk melanjutkan membaca tulisan ini.
Padahal kalau di Depok, gaji pokok guru swasta yang mengajar 20 jam sepekan hanya 660 ribu. Itu pun nggak ada tunjangan. Guru-guru Jakarta dalam hal ini lebih beruntung dengan tunjangan 2 jutanya. Memang masalah besaran gaji sangat tergantung pada daerahnya. Depok saja yang dekat dengan Jakarta masih separah itu, lalu bagaimana dengan di Manokwari?
Bisa jadi inilah alasan dari 2 kejadian yang saya alami selama sekolah di Indonesia. Yang pertama ketika dulu di kelas 1 SMA. Di salah satu pelajaran di kelas, seorang guru bertanya ke semua anak di kelas saya, “siapa yang punya cita-cita jadi guru?” Secara mengejutkan—walau sebenarnya bisa ditebak—hanya 2 orang termasuk saya yang mengangkat tangan saat itu. Teman-teman saya yang lainnya menatap kami berdua seperti melihat spesies langka temuan baru. Barangkali kalau guru saya waktu itu melanjutkan dengan menananyakan alasannya, akan terdengar koor serempak dari anak-anak satu kelas, “gajinya Pak!!!”
Lalu, kejadian kedua menyangkut masalah kualitas guru. Yang ini masih sangat lekat di memori saya. Lagi-lagi di SMA. Saat itu, karena ada ulangan, guru saya meminta ketua kelas atau bendahara untuk mengumpulkan Rp 500,00 per anak untuk biaya tes. Dalam bayangan saya—dan juga teman-teman semua—sehabis tes, lembar fotokopian soal akan dibagikan. Kami tunggu, kami tunggu, dan kami tunggu. Sampai terakhir, malah dikumpulkan kembali. Dan, fotokopian itu dipakai untuk ulangan di kelas-kelas lainnya! Bisa Anda bayangkan—respek kami hilang terhadap guru itu. Bukan cuma satu kelas, tapi satu angkatan!
Di sini yang agak susah. Beberapa teman saya mungkin akan memaklumi tindakan guru itu, mengingat beliau laki-laki; punya keluarga, punya tanggungan. Mana cukup dengan gaji pegawai negeri biasa? Nah, di sini yang menurut saya menjadi penting. Kualitas seorang guru bagaimana pun akan dipengaruhi gajinya. Bagi Anda sendiri, mungkin banyak kisah-kisah serupa, saat guru-guru Anda berani mengorbankan harga dirinya untuk uang yang nggak seberapa. Mereka membeli kepercayaan dan respek murid-muridnya dengan uang 200 atau 300 ribu! Dan, saya nggak percaya bahwa murid akan menerima begitu saja pelajaran dari guru-guru yang sudah sama sekali tidak dihormati.
Ada tulisan menarik di Kompas yang menyebut mengenai lingkaran setan kualitas guru. Mengapa kualitas guru rendah? Karena gajinya rendah. Karena gajinya rendah, profesi guru menjadi nggak menarik bagi lulusan-lulusan terbaik anak bangsa. Lulus SMA, lebih banyak yang memilih untuk melanjutkan studi di teknik, kedokteran, ekonomi, dan sebagainya. Jarang yang meneruskan ke IKIP. IKIP-IKIP pun banting setir menjadi universitas untuk meningkatkan gengsinya. Bahkan UPI (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung) sering dipelesetkan menjadi “universitas, padahal IKIP”. Akhirnya generasi-generasi Indonesia pun hanya dibesarkan oleh lulusan-lulusan yang bukan kelas satu.
Tapi, walau bagaimana pun saya tetap hormat sama guru-guru saya sendiri. Mereka sebenarnya orang-orang yang luar biasa. Terkadang, kita bisa melihat pancaran keikhlasan dari setiap ucapannya, atau dari binar matanya.
Saya ingat, guru saya di SD lah yang waktu itu mengecek hapalan propinsi-propinsi di Indonesia beserta ibukotanya. Jadi, saat itu tiap anak disuruh maju satu-satu dan menyebutkannya dari ujung barat sampai timur. Guru SD saya juga lah yang dulu setiap sebelum pulang menyuruh anak-anak untuk menyebut keras-keras asmaul husna. Hapalan itu ditambah satu demi satu setiap harinya.
Kalau bukan karena penjelasan guru SMP, kita sekarang nggak akan mengerti tentang rantai makanan, rumus Q=mc∆t, atau tentang konsep Pelita (Pembangunan Lima Tahun). Rentetan pelajaran dari guru-guru SD, SMP, SMA lah yang membuat kita hapal tentang tahunnya perang Diponegoro, 1825-1830. Mereka lah yang membentuk konsep pemahaman kita tentang banyak hal-hal yang mendasar.
Iya, memang orang Indonesia masih lebih senang memuji mereka daripada memberikan sesuatu buat mereka. Seperti pada alunan lagu ini
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa
Dalam menyanyikannya, kita menyebut kata “pahlawan bangsaaaa ..” dengan panjang sampai dengan napas terakhir, dan melanjutkan “tanpa tanda jasa” dengan bisik-bisik, dengan sisa napas kita. Memang begitulah. Tanda jasa tak ada, gaji pun secukupnya.
Padahal, yang menginspirasi penerapan beberapa fasilitas tambahan bagi guru-guru Singapore adalah ucapan Lee Hsien Loong, “everything about our vision for education—every niche, every area of excellence, every approach to cater to a different learning style—is really about teachers.”
Singapore,
Kamis malam, 7 September 2006
Rekomendasi bacaan:
Meningkatkan Mutu Guru, Dari Mana Dimulai? Kompas
Menunggu Kematian Guru De Britto
Agustus, Gaji Guru Sekitar 4 Juta ITS
Di Straits Times Selasa lalu, ada berita di halaman depan yang langsung menarik perhatian saya. Tertulis “$250m package to make teaching more attractive.” Ya, S$250 juta untuk peningkatan mutu pendidikan selama 3 tahun ini di Singapore, katanya.
Ini tentunya salah satu upaya pemerintah Singapore untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Mereka ingin menarik sebanyak mungkin minat lulusan-lulusan universitas yang berkualitas, dan juga menahan guru-guru muda yang bagus agar tetap mengajar di sekolah. Karena bagi kelompok yang kedua, banyak yang kemudian meninggalkan profesi mengajarnya dan mengejar karir sebagai profesional.
Uang sebanyak S$250 juta itu salah satunya untuk peningkatan pembayaran insentif atau bonus. Dituliskan, jumlah bonus sampai dengan S$160 ribu akan pindah tangan bagi guru-guru yang bisa bertahan sampai dengan masa pensiun. Selain itu, pembayaran gaji penuh untuk mereka yang cuti untuk pengembangan kualitas diri, misalnya untuk melanjutkan program masternya. Penggantian pengeluaran pribadi untuk urusan pendidikan bisa diklaim sampai dengan S$400-S$700 setiap tahunnya. Masih banyak lagi daftar fasilitas-fasilitas yang dijanjikan MOE (Ministry of Education), yang kalau saya lanjutkan akan membuat guru-guru Indonesia nggak tega untuk melanjutkan membaca tulisan ini.
Padahal kalau di Depok, gaji pokok guru swasta yang mengajar 20 jam sepekan hanya 660 ribu. Itu pun nggak ada tunjangan. Guru-guru Jakarta dalam hal ini lebih beruntung dengan tunjangan 2 jutanya. Memang masalah besaran gaji sangat tergantung pada daerahnya. Depok saja yang dekat dengan Jakarta masih separah itu, lalu bagaimana dengan di Manokwari?
Bisa jadi inilah alasan dari 2 kejadian yang saya alami selama sekolah di Indonesia. Yang pertama ketika dulu di kelas 1 SMA. Di salah satu pelajaran di kelas, seorang guru bertanya ke semua anak di kelas saya, “siapa yang punya cita-cita jadi guru?” Secara mengejutkan—walau sebenarnya bisa ditebak—hanya 2 orang termasuk saya yang mengangkat tangan saat itu. Teman-teman saya yang lainnya menatap kami berdua seperti melihat spesies langka temuan baru. Barangkali kalau guru saya waktu itu melanjutkan dengan menananyakan alasannya, akan terdengar koor serempak dari anak-anak satu kelas, “gajinya Pak!!!”
Lalu, kejadian kedua menyangkut masalah kualitas guru. Yang ini masih sangat lekat di memori saya. Lagi-lagi di SMA. Saat itu, karena ada ulangan, guru saya meminta ketua kelas atau bendahara untuk mengumpulkan Rp 500,00 per anak untuk biaya tes. Dalam bayangan saya—dan juga teman-teman semua—sehabis tes, lembar fotokopian soal akan dibagikan. Kami tunggu, kami tunggu, dan kami tunggu. Sampai terakhir, malah dikumpulkan kembali. Dan, fotokopian itu dipakai untuk ulangan di kelas-kelas lainnya! Bisa Anda bayangkan—respek kami hilang terhadap guru itu. Bukan cuma satu kelas, tapi satu angkatan!
Di sini yang agak susah. Beberapa teman saya mungkin akan memaklumi tindakan guru itu, mengingat beliau laki-laki; punya keluarga, punya tanggungan. Mana cukup dengan gaji pegawai negeri biasa? Nah, di sini yang menurut saya menjadi penting. Kualitas seorang guru bagaimana pun akan dipengaruhi gajinya. Bagi Anda sendiri, mungkin banyak kisah-kisah serupa, saat guru-guru Anda berani mengorbankan harga dirinya untuk uang yang nggak seberapa. Mereka membeli kepercayaan dan respek murid-muridnya dengan uang 200 atau 300 ribu! Dan, saya nggak percaya bahwa murid akan menerima begitu saja pelajaran dari guru-guru yang sudah sama sekali tidak dihormati.
Ada tulisan menarik di Kompas yang menyebut mengenai lingkaran setan kualitas guru. Mengapa kualitas guru rendah? Karena gajinya rendah. Karena gajinya rendah, profesi guru menjadi nggak menarik bagi lulusan-lulusan terbaik anak bangsa. Lulus SMA, lebih banyak yang memilih untuk melanjutkan studi di teknik, kedokteran, ekonomi, dan sebagainya. Jarang yang meneruskan ke IKIP. IKIP-IKIP pun banting setir menjadi universitas untuk meningkatkan gengsinya. Bahkan UPI (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung) sering dipelesetkan menjadi “universitas, padahal IKIP”. Akhirnya generasi-generasi Indonesia pun hanya dibesarkan oleh lulusan-lulusan yang bukan kelas satu.
Tapi, walau bagaimana pun saya tetap hormat sama guru-guru saya sendiri. Mereka sebenarnya orang-orang yang luar biasa. Terkadang, kita bisa melihat pancaran keikhlasan dari setiap ucapannya, atau dari binar matanya.
Saya ingat, guru saya di SD lah yang waktu itu mengecek hapalan propinsi-propinsi di Indonesia beserta ibukotanya. Jadi, saat itu tiap anak disuruh maju satu-satu dan menyebutkannya dari ujung barat sampai timur. Guru SD saya juga lah yang dulu setiap sebelum pulang menyuruh anak-anak untuk menyebut keras-keras asmaul husna. Hapalan itu ditambah satu demi satu setiap harinya.
Kalau bukan karena penjelasan guru SMP, kita sekarang nggak akan mengerti tentang rantai makanan, rumus Q=mc∆t, atau tentang konsep Pelita (Pembangunan Lima Tahun). Rentetan pelajaran dari guru-guru SD, SMP, SMA lah yang membuat kita hapal tentang tahunnya perang Diponegoro, 1825-1830. Mereka lah yang membentuk konsep pemahaman kita tentang banyak hal-hal yang mendasar.
Iya, memang orang Indonesia masih lebih senang memuji mereka daripada memberikan sesuatu buat mereka. Seperti pada alunan lagu ini
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa
Dalam menyanyikannya, kita menyebut kata “pahlawan bangsaaaa ..” dengan panjang sampai dengan napas terakhir, dan melanjutkan “tanpa tanda jasa” dengan bisik-bisik, dengan sisa napas kita. Memang begitulah. Tanda jasa tak ada, gaji pun secukupnya.
Padahal, yang menginspirasi penerapan beberapa fasilitas tambahan bagi guru-guru Singapore adalah ucapan Lee Hsien Loong, “everything about our vision for education—every niche, every area of excellence, every approach to cater to a different learning style—is really about teachers.”
Singapore,
Kamis malam, 7 September 2006
Rekomendasi bacaan:
Meningkatkan Mutu Guru, Dari Mana Dimulai? Kompas
Menunggu Kematian Guru De Britto
Agustus, Gaji Guru Sekitar 4 Juta ITS
Permainan masa sekolah by Radon
Permainan-Permainan Masa Sekolah (1)
Saya mencoba mengingat permainan-permainan yang saya kenal semasa sekolah dulu. Dalam tulisan ini, saya batasi untuk permainan-permainan “indoor” atau yang bisa dan biasa dimainkan di dalam kelas saja.
Catur Jawa
Jumlah pemain: 2 orang.
Cara bermain: masing-masing pemain menggerakkan pion (bisa batu, penghapus, rautan) menurut jalurnya secara bergantian. Satu gerakan tiap kesempatan, sampai bisa membentuk garis lurus—horizontal, vertikal, atau diagonal. Satu aturan: membentuk garis horizontal di tempat awal nggak dianggap memenangkan pertandingan.
Tambahan: saya kenal permainan ini saat SD. Sangat sederhana—hanya butuh modal 6 buah batu atau barang-barang lain. Permainan ini dulu sempat jadi primadona pas SD. Selain bisa dimainkan di kelas; di luar kelas, terutama di lapangan juga bisa. Kalau di luar kelas, perlu tempat yang ada tanahnya, dengan modal 6 batu kecil dan sebatang dahan pohon untuk menggambar arenanya.
Sayangnya permainan ini terlalu sederhana, jadi cepat bosan. Makanya di SMP atau SMA, saya sudah nggak menjumpai lagi teman-teman yang memainkan catur Jawa. Anda bisa mencoba download flash game catur Jawa hasil karya Beligerin dari Baba Forum di sini.
SOS
Jumlah pemain: normalnya 2
Cara bermain: di selembar kertas yang sudah dibuat kotak-kotak, masing-masing pemain bergantian mengisi kotak-kotak tersebut dengan huruf “S” atau “O”. Yang menang adalah yang paling banyak membuat deretan “SOS”, baik horizontal, vertikal maupun diagonal sampai “arenanya” penuh.
Tambahan: Ini pun permainan SD. Tapi sampai SMP awal masih cukup populer. Karena nggak terlalu rumit, terkadang aturannya dimodifikasi sedikit: tujuannya bukan lagi “SOS”, tapi “SOSOS”.
ABC 5 Dasar
Jumlah pemain: idealnya 2 sampai 5 orang
Cara bermain: Ini permainan kosakata dan hapalan. Di awal permainan, pemain harus menyepakati kategori-kategori yang harus ditebak. Misal: 3 kategori, nama hewan, nama pemain bola, dan nama negara.
Lalu, sembari meneriakkan “a be ce lima daaassaarr”, masing-masing pemain mengeluarkan angka 1-10 dengan jari-jari tangannya. Jumlah angka tersebut menentukan suatu huruf yang akan dipakai.
Penilaiannya memiliki aturan tersendiri. Nilai maksimum adalah 100, minimum 0. kalau jawaban “Kewell” dijawab hanya oleh satu orang, maka dia berhak dapat 100. Tapi kalau ada 2 orang, maka masing-masing 50, dan seterusnya.
Tambahan: menurut saya, ini salah satu permainan legendaris. Namanya mungkin bisa beda di setiap daerah, tapi permainan ini ada dari SD, bahkan sampai SMA.
Tebak Kata
Jumlah pemain: 1 game master dan penebak (sekitar 2-5 orang)
Cara bermain: game master (perannya bisa bergiliran) menyimpan satu kata. Di awal permainan bisa dibuat perjanjian terlebih dahulu tentang kata yang akan dimainkan. Bisa bertopik nama pemain sepak bola, nama presiden, nama negara, kata dalam bahasa Inggris, atau lainnya.
Lalu game master membuat garis-garis horizontal yang berjajar sejumlah huruf dalam kata tersebut. Misalnya game master menyimpan kata “sapi”, maka garis yang dibuat berjumlah 4.
Permainan dimulai dengan peserta menebak-nebak huruf secara bergiliran. Misalnya jika peserta menebak “a”, maka game master akan menuliskan huruf “a” di garis kedua, sesuai letak huruf “a” di “sapi”, dan seterusnya. Hanya saja, jumlah tebakan yang salah nggak boleh lebih dari jumlah huruf yang ada—4 dalam hal ini.
Tambahan: Permainan ini nggak terlalu spesial sebenarnya. Dulu sering dimainkan di masa SD dan SMP awal.
Angka-Tempat (AT)
Jumlah pemain: 2 orang
Cara bermain: masing-masing orang menyimpan sebuah kombinasi angka-angka yang terdiri dari 4 digit. Satu angka nggak boleh muncul dua kali—jadi, ada 5040 kemungkinan. Nah, kemudian masing-masing pemain mencoba menebak angka milik lawannya. Lawan akan mengecek setiap tebakan, sambil menulis berapa angka yang benar, dan berapa yang benar lokasinya. Yang lebih dulu bisa menebak angka lawannya adalah pemenangnya.
Tambahan: Permainan ini dulu salah satu favorit saya. Sederhana, tapi nggak cepat bikin bosan. Hanya dalam 5 menitan, satu permainan sudah bisa selesai. Jadi, sangat nyaman jadi permainan di dalam kelas—bahkan saat guru sedang mengajar sekali pun. Permainan ini mencapai hits-nya pada awal masa SMA.
Koin-Koinan
Jumlah pemain: minimal 2 orang.
Cara bermain: Dalam setiap giliran pemain, ada 2 babak dalam permainan ini.
Babak pertama, pemain yang sedang mendapat giliran akan menebar 5 koinnya di atas meja. Dia berhak untuk membuang 1 koin pilihannya. Lalu, dari 4 koin sisanya, pemain lain akan menentukan pasangan koin (2 pasang) bagi sang pemain aktif. Pemain aktif kemudian harus menyentil koin untuk mengenai pasangannya. Dalam fase ini, terkadang dibolehkan menggunakan alat bantu, seperti penggaris plastik, selain dengan bantuan tangan untuk membelokkan jalur koin.
Saat menebar koin, terkadang ada banyak kemungkinan:
1. Dua koin bertumpukan
Untuk kasus ini, 2 koin tersebut harus dibuang, dan sang pemain mendapatkan keuntungan dengan hanya harus bermain dengan sepasang koin
2. Tiga koin bertumpukan
Di sini, 3 koin akan disusun menjadi penghalang, lalu 2 koin sisanya akan ditempatkan di antara penghalang itu dengan jarak tertentu (bisa berubah-ubah peraturannya).
3. Empat koin bertumpukan
Saya lupa untuk yang ini :)
Kalau sang pemain lolos di babak pertama—yaitu kalau berhasil menyentil 2 koin dan mengenai pasangan koinnya masing-masing—maka sang pemain berhak untuk masuk ke babak kedua: babak pengumpulan poin.
Di sini, pemain aktif akan memainkan 5 koin tersebut dengan tangannya. 5 koin di telapak tangan, lalu dia harus melontarkannya ke udara, sambil berusaha untuk menerima 5 koin tersebut dengan punggung tangannya saat mendarat. Ada kemungkinan koin yang berhasil didaratkan di punggung tangan kurang dari lima. Dan tugas terakhirnya adalah melontarkannya kembali ke udara, dan kini harus berusaha menangkap koin-koin itu dalam genggaman tangan.
Bagaimana dengan poinnya? Jumlah koin yang ada dalam genggaman terakhir adalah poin yang didapat oleh pemain aktif. Setelahnya, ganti giliran untuk pemain kedua, dan seterusnya.
Pemenang untuk permainan ini adalah yang paling banyak mengumpulkan poin dalam waktu tertentu (misal: sampai guru masuk ke kelas :p)
Tambahan: Permainan ini cukup mengasyikkan. Dulu kalau ada jam kosong ketika SMP, di kelas saya bisa ada sampai 4 atau 5 kelompok yang memainkan permainan ini. Bahkan seingat saya, sampai masa SMA awal, permainan ini masih sering dimainkan di kelas. Mungkin karena kompleksitas aturannya, permainan ini jadi menarik sehingga bertahan cukup lama. Menariknya, konon permainan ini adalah permainan lama—sudah pernah dimainkan sejak zaman orang tua kita.
Adu Jempol (Ayam-Ayaman)
Jumlah pemain: 2 orang
Cara bermain: tangan kanan pemain 1 mengait tangan kanan pemain 2. Lalu, ibu jari yang bebas akan bertarung untuk menundukkan (baca: menjepit) ibu jari lawannya. Kalau berhasil menjepit selama 10 detik, maka dialah pemenangnya.
Tambahan: walaupun dalam teorinya hanya tangan—khususnya ibu jari—yang bergerak, tapi pada prakteknya, badan bagian atas, atau kaki pun bisa ikut bergerak. Hal ini terutama kalau seorang pemain sudah dalam keadaan “terjepit”. Menariknya juga, ibu jari pemain kadang bisa “ngumpet” di punggung tangan, untuk sekadar istirahat.
Jempol
Jumlah pemain: minimal 2 orang
Cara bermain: Masing-masing pemain mengeluarkan kedua tangannya seperti gambar di kiri. Ada 2 jenis peran di permainan ini: aktif, dan pasif.
Saat seorang pemain aktif, maka dia berhak menebak angka dari 0 (nol) sampai maksimum jumlah ibu jari pemain yang ada. Angka yang disebut merujuk pada jumlah ibu jari yang akan diangkat bersamaan dengan pemain aktif menyebut sebuah angka.
Misal: kalau seorang pemain aktif menebak “1”, dan di saat bersamaan hanya ada 1 ibu jari yang terangkat dari 6 yang ada, maka pemain aktif berhak menurunkan satu tangannya. Peran menebak ini bergiliran.
Yang menang adalah yang pertama berhasil menurunkan kedua tangannya.
Tambahan: saya baru mengenal permainan ini ketika SMA. Sederhana, tapi cukup menegangkan. Tentang nama, saya nggak ingat kalau ada namanya. Kadang teman saya sekadar ngomong, “eh, main jempol yuk,” dan semua sudah mengerti.
Keplak Tangan
Jumlah pemain: 2 orang
Cara bermain: Masing-masing pemain mengeluarkan tangannya seperti gambar di atas. Ada 2 peran di sini: yang menyerang, dan yang bertahan. Yang menyerang akan berusaha mengeplak punggung tangan lawannya. Dan yang bertahan bisa bertahan dengan cara membuka tangannya ke atas dan ke bawah seperti gambar di kanan. Penyerang juga bisa menyerang, tapi pura-pura—dengan berhenti di tengah jalan.
Ada 4 kemungkinan:
1. Penyerang mengeplak, lawannya diam --> penyerang mendapat giliran menyerang kembali
2. Penyerang mengeplak, lawannya membuka tangan --> ganti peran
3. Penyerang menipu, lawannya diam --> ganti peran
4. Penyerang menipu, lawannya membuka tangan --> penyerang mendapat giliran mengeplak secara bebas
Nggak ada pemenang di permainan ini. Biasanya sama-sama merah tangannya.
Tambahan: Permainan ini agak sadistik. Biasanya yang jago akan tetap jago, yang nggak jago akan terus meminta supaya permainannya berlanjut sampai tangannya merah banget.
Penutup
Sebenarnya masih banyak permainan lain yang belum saya sebut, termasuk catur, remi, panco, dan lainnya. Bahkan untuk catur, ada teman saya yang dulu sengaja menaruh papan catur di kolong mejanya, dan setiap jam kosong main catur dengan teman sebelahnya. Saya merasa permainan-permainan tersebut nggak orisinil, makanya saya enggan memasukkannya dalam daftar.
Mengingat permainan-permainan seperti ini jadi mengingatkan saya tentang kreativitas anak-anak sekolah dulu ketika jam kosong di kelas. Makanya nggak heran teman satu kelas dulu bisa begitu kompak dalam banyak hal—positif dan negatif.
Mungkin Anda punya permainan lain yang belum saya sebut?
Singapore,
Rabu, 11 April 2007
Saya mencoba mengingat permainan-permainan yang saya kenal semasa sekolah dulu. Dalam tulisan ini, saya batasi untuk permainan-permainan “indoor” atau yang bisa dan biasa dimainkan di dalam kelas saja.
Catur Jawa
Jumlah pemain: 2 orang.
Cara bermain: masing-masing pemain menggerakkan pion (bisa batu, penghapus, rautan) menurut jalurnya secara bergantian. Satu gerakan tiap kesempatan, sampai bisa membentuk garis lurus—horizontal, vertikal, atau diagonal. Satu aturan: membentuk garis horizontal di tempat awal nggak dianggap memenangkan pertandingan.
Tambahan: saya kenal permainan ini saat SD. Sangat sederhana—hanya butuh modal 6 buah batu atau barang-barang lain. Permainan ini dulu sempat jadi primadona pas SD. Selain bisa dimainkan di kelas; di luar kelas, terutama di lapangan juga bisa. Kalau di luar kelas, perlu tempat yang ada tanahnya, dengan modal 6 batu kecil dan sebatang dahan pohon untuk menggambar arenanya.
Sayangnya permainan ini terlalu sederhana, jadi cepat bosan. Makanya di SMP atau SMA, saya sudah nggak menjumpai lagi teman-teman yang memainkan catur Jawa. Anda bisa mencoba download flash game catur Jawa hasil karya Beligerin dari Baba Forum di sini.
SOS
Jumlah pemain: normalnya 2
Cara bermain: di selembar kertas yang sudah dibuat kotak-kotak, masing-masing pemain bergantian mengisi kotak-kotak tersebut dengan huruf “S” atau “O”. Yang menang adalah yang paling banyak membuat deretan “SOS”, baik horizontal, vertikal maupun diagonal sampai “arenanya” penuh.
Tambahan: Ini pun permainan SD. Tapi sampai SMP awal masih cukup populer. Karena nggak terlalu rumit, terkadang aturannya dimodifikasi sedikit: tujuannya bukan lagi “SOS”, tapi “SOSOS”.
ABC 5 Dasar
Jumlah pemain: idealnya 2 sampai 5 orang
Cara bermain: Ini permainan kosakata dan hapalan. Di awal permainan, pemain harus menyepakati kategori-kategori yang harus ditebak. Misal: 3 kategori, nama hewan, nama pemain bola, dan nama negara.
Lalu, sembari meneriakkan “a be ce lima daaassaarr”, masing-masing pemain mengeluarkan angka 1-10 dengan jari-jari tangannya. Jumlah angka tersebut menentukan suatu huruf yang akan dipakai.
Penilaiannya memiliki aturan tersendiri. Nilai maksimum adalah 100, minimum 0. kalau jawaban “Kewell” dijawab hanya oleh satu orang, maka dia berhak dapat 100. Tapi kalau ada 2 orang, maka masing-masing 50, dan seterusnya.
Tambahan: menurut saya, ini salah satu permainan legendaris. Namanya mungkin bisa beda di setiap daerah, tapi permainan ini ada dari SD, bahkan sampai SMA.
Tebak Kata
Jumlah pemain: 1 game master dan penebak (sekitar 2-5 orang)
Cara bermain: game master (perannya bisa bergiliran) menyimpan satu kata. Di awal permainan bisa dibuat perjanjian terlebih dahulu tentang kata yang akan dimainkan. Bisa bertopik nama pemain sepak bola, nama presiden, nama negara, kata dalam bahasa Inggris, atau lainnya.
Lalu game master membuat garis-garis horizontal yang berjajar sejumlah huruf dalam kata tersebut. Misalnya game master menyimpan kata “sapi”, maka garis yang dibuat berjumlah 4.
Permainan dimulai dengan peserta menebak-nebak huruf secara bergiliran. Misalnya jika peserta menebak “a”, maka game master akan menuliskan huruf “a” di garis kedua, sesuai letak huruf “a” di “sapi”, dan seterusnya. Hanya saja, jumlah tebakan yang salah nggak boleh lebih dari jumlah huruf yang ada—4 dalam hal ini.
Tambahan: Permainan ini nggak terlalu spesial sebenarnya. Dulu sering dimainkan di masa SD dan SMP awal.
Angka-Tempat (AT)
Jumlah pemain: 2 orang
Cara bermain: masing-masing orang menyimpan sebuah kombinasi angka-angka yang terdiri dari 4 digit. Satu angka nggak boleh muncul dua kali—jadi, ada 5040 kemungkinan. Nah, kemudian masing-masing pemain mencoba menebak angka milik lawannya. Lawan akan mengecek setiap tebakan, sambil menulis berapa angka yang benar, dan berapa yang benar lokasinya. Yang lebih dulu bisa menebak angka lawannya adalah pemenangnya.
Tambahan: Permainan ini dulu salah satu favorit saya. Sederhana, tapi nggak cepat bikin bosan. Hanya dalam 5 menitan, satu permainan sudah bisa selesai. Jadi, sangat nyaman jadi permainan di dalam kelas—bahkan saat guru sedang mengajar sekali pun. Permainan ini mencapai hits-nya pada awal masa SMA.
Koin-Koinan
Jumlah pemain: minimal 2 orang.
Cara bermain: Dalam setiap giliran pemain, ada 2 babak dalam permainan ini.
Babak pertama, pemain yang sedang mendapat giliran akan menebar 5 koinnya di atas meja. Dia berhak untuk membuang 1 koin pilihannya. Lalu, dari 4 koin sisanya, pemain lain akan menentukan pasangan koin (2 pasang) bagi sang pemain aktif. Pemain aktif kemudian harus menyentil koin untuk mengenai pasangannya. Dalam fase ini, terkadang dibolehkan menggunakan alat bantu, seperti penggaris plastik, selain dengan bantuan tangan untuk membelokkan jalur koin.
Saat menebar koin, terkadang ada banyak kemungkinan:
1. Dua koin bertumpukan
Untuk kasus ini, 2 koin tersebut harus dibuang, dan sang pemain mendapatkan keuntungan dengan hanya harus bermain dengan sepasang koin
2. Tiga koin bertumpukan
Di sini, 3 koin akan disusun menjadi penghalang, lalu 2 koin sisanya akan ditempatkan di antara penghalang itu dengan jarak tertentu (bisa berubah-ubah peraturannya).
3. Empat koin bertumpukan
Saya lupa untuk yang ini :)
Kalau sang pemain lolos di babak pertama—yaitu kalau berhasil menyentil 2 koin dan mengenai pasangan koinnya masing-masing—maka sang pemain berhak untuk masuk ke babak kedua: babak pengumpulan poin.
Di sini, pemain aktif akan memainkan 5 koin tersebut dengan tangannya. 5 koin di telapak tangan, lalu dia harus melontarkannya ke udara, sambil berusaha untuk menerima 5 koin tersebut dengan punggung tangannya saat mendarat. Ada kemungkinan koin yang berhasil didaratkan di punggung tangan kurang dari lima. Dan tugas terakhirnya adalah melontarkannya kembali ke udara, dan kini harus berusaha menangkap koin-koin itu dalam genggaman tangan.
Bagaimana dengan poinnya? Jumlah koin yang ada dalam genggaman terakhir adalah poin yang didapat oleh pemain aktif. Setelahnya, ganti giliran untuk pemain kedua, dan seterusnya.
Pemenang untuk permainan ini adalah yang paling banyak mengumpulkan poin dalam waktu tertentu (misal: sampai guru masuk ke kelas :p)
Tambahan: Permainan ini cukup mengasyikkan. Dulu kalau ada jam kosong ketika SMP, di kelas saya bisa ada sampai 4 atau 5 kelompok yang memainkan permainan ini. Bahkan seingat saya, sampai masa SMA awal, permainan ini masih sering dimainkan di kelas. Mungkin karena kompleksitas aturannya, permainan ini jadi menarik sehingga bertahan cukup lama. Menariknya, konon permainan ini adalah permainan lama—sudah pernah dimainkan sejak zaman orang tua kita.
Adu Jempol (Ayam-Ayaman)
Jumlah pemain: 2 orang
Cara bermain: tangan kanan pemain 1 mengait tangan kanan pemain 2. Lalu, ibu jari yang bebas akan bertarung untuk menundukkan (baca: menjepit) ibu jari lawannya. Kalau berhasil menjepit selama 10 detik, maka dialah pemenangnya.
Tambahan: walaupun dalam teorinya hanya tangan—khususnya ibu jari—yang bergerak, tapi pada prakteknya, badan bagian atas, atau kaki pun bisa ikut bergerak. Hal ini terutama kalau seorang pemain sudah dalam keadaan “terjepit”. Menariknya juga, ibu jari pemain kadang bisa “ngumpet” di punggung tangan, untuk sekadar istirahat.
Jempol
Jumlah pemain: minimal 2 orang
Cara bermain: Masing-masing pemain mengeluarkan kedua tangannya seperti gambar di kiri. Ada 2 jenis peran di permainan ini: aktif, dan pasif.
Saat seorang pemain aktif, maka dia berhak menebak angka dari 0 (nol) sampai maksimum jumlah ibu jari pemain yang ada. Angka yang disebut merujuk pada jumlah ibu jari yang akan diangkat bersamaan dengan pemain aktif menyebut sebuah angka.
Misal: kalau seorang pemain aktif menebak “1”, dan di saat bersamaan hanya ada 1 ibu jari yang terangkat dari 6 yang ada, maka pemain aktif berhak menurunkan satu tangannya. Peran menebak ini bergiliran.
Yang menang adalah yang pertama berhasil menurunkan kedua tangannya.
Tambahan: saya baru mengenal permainan ini ketika SMA. Sederhana, tapi cukup menegangkan. Tentang nama, saya nggak ingat kalau ada namanya. Kadang teman saya sekadar ngomong, “eh, main jempol yuk,” dan semua sudah mengerti.
Keplak Tangan
Jumlah pemain: 2 orang
Cara bermain: Masing-masing pemain mengeluarkan tangannya seperti gambar di atas. Ada 2 peran di sini: yang menyerang, dan yang bertahan. Yang menyerang akan berusaha mengeplak punggung tangan lawannya. Dan yang bertahan bisa bertahan dengan cara membuka tangannya ke atas dan ke bawah seperti gambar di kanan. Penyerang juga bisa menyerang, tapi pura-pura—dengan berhenti di tengah jalan.
Ada 4 kemungkinan:
1. Penyerang mengeplak, lawannya diam --> penyerang mendapat giliran menyerang kembali
2. Penyerang mengeplak, lawannya membuka tangan --> ganti peran
3. Penyerang menipu, lawannya diam --> ganti peran
4. Penyerang menipu, lawannya membuka tangan --> penyerang mendapat giliran mengeplak secara bebas
Nggak ada pemenang di permainan ini. Biasanya sama-sama merah tangannya.
Tambahan: Permainan ini agak sadistik. Biasanya yang jago akan tetap jago, yang nggak jago akan terus meminta supaya permainannya berlanjut sampai tangannya merah banget.
Penutup
Sebenarnya masih banyak permainan lain yang belum saya sebut, termasuk catur, remi, panco, dan lainnya. Bahkan untuk catur, ada teman saya yang dulu sengaja menaruh papan catur di kolong mejanya, dan setiap jam kosong main catur dengan teman sebelahnya. Saya merasa permainan-permainan tersebut nggak orisinil, makanya saya enggan memasukkannya dalam daftar.
Mengingat permainan-permainan seperti ini jadi mengingatkan saya tentang kreativitas anak-anak sekolah dulu ketika jam kosong di kelas. Makanya nggak heran teman satu kelas dulu bisa begitu kompak dalam banyak hal—positif dan negatif.
Mungkin Anda punya permainan lain yang belum saya sebut?
Singapore,
Rabu, 11 April 2007
School Of The Future by Mas kwarta
Visit to School of the Future in Philadelphia [USA] 10.11.1006
Lawatan ke Masa Depan Pendidikan
Pada 9-11 November 2006 yang lalu, saya bersama Sri Rahayu Ningsih (Guru SMAN 67 Jakarta) dan Asep Zaenal Rahmat (Guru SMAN 5 Bogor) serta Ismail Syah - Academic Program Manager (APM) Microsoft Indonesia berkesempatan memenuhi undangan Gerri Elliott (Corporate Vice President, Public Sector, Microsoft Corporation) untuk mengikuti Microsoft Worldwide Innovative Teachers Forum di Philadelphia, USA. Diantara agenda forum adalah kunjungan ke School Of the Future di Kota Philadelphia. Forum ini merupakan bagian dari program Microsoft Partners in Learning (PiL) internasional yang dihadiri oleh 32 negara dari 101 negara peserta program PiL di seluruh dunia.
Bertepatan pada Hari Pahlawan 10 November 2006, selepas buffet lunch di Regency A Foyer Loews Hotel Philadelphia (USA), saya bersama sekitar 70-an guru yang diundang Microsoft Corporation berangkat dengan 2 bus menuju lokasi School Of the Future (SOF) yang berjarak tempuh sekitar 25 menit dari hotel.
SOF yang diproyeksikan menjadi model sekolah menengah (K-9 & K-12) ini telah menerima sekitar 750 siswa dari 4000-an pendaftar pada bulan September 2006 yang lalu. SOF sendiri adalah gedung sekolah baru yang megah dan (tentunya) canggih ini berlokasi di sebelah Barat Kota Philadelphia yang dikenal sebagai lokasi perumahan dan pertamanan tua yang sangat bersejarah.
Kurikulum SOF adalah kurikulum komprehensif yang sama dengan sekolah-sekolah setingkat di Negara bagian Pennsylvania. Proyek yang didanai oleh School District of Philadelphia Capital Improvement Project ini menghabiskan biaya sekitar $ 50 juta (termasuk bangunan, prasarana dan sarananya) serta mendapat kontribusi primer berupa SDM dan dukungan pengembangan kemitraan dari Microsoft (termasuk sistem dan infrastruktur berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang ‘ditabur’ dan ‘ditanam’ di gedung SOF). SOF merupakan proyek prestisius yang diharapkan dapat mendorong pengembangan sekolah sejenis di Amerika Serikat dan seluruh dunia, setidaknya dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain dalam mengembangankan sekolah yang inovatif.
Untuk mempertahankan lingkungan pendidikan dan tradisi belajar masyarakat, SOF telah menetapkan prinsip-prinsip strategis:
1. dimana pembelajaran tidak terikat pada ruang dan waktu,
2. dimana materi pelajaran, kurikulum dan perangkat belajar mengajar senantiasa mutakhir & relevan, dan
3. dimana pembelajaran diadaptasi sesuai keinginan individual setiap siswa.
Dengan bervisi sebagai komunitas pemberdayaan manusia dimana proses pembelajaran senantiasa berkesinambungan, relevan dan adaptif. SOF menetapkan misinya sebagai sekolah masa depan yang: (1) menerapkan hasil penelitian dan pengembangan untuk memperkaya pengalaman praktis di bidang pendidikan, (2) menciptakan sebuah lingkungan belajar yang melibatkan seluruh civitas sekolah, dan (3) mendorong civitas sekolah untuk senantiasa menjaga semangat belajar, (4) menanamkan tanggung jawab pribadi siswa untuk belajar, dan (5) menginspirasi masyarakat untuk tetap berkomitmen dan terlibat aktif di dalam kegiatan pendidikan.
Ellen Savitz, Chief Development Officer SOF dengan lugas menegaskan kepada kita semua bahwa SOF tidak perlu digumuni (ditakjubi) karena megah dan canggihnya gedung sekolah berlantai 4 tersebut. Karena hal itu memang bukanlah sesuatu yang perlu dibanggakan, karena tidak sulit bagi negara-negara federal lain di Amerika Serikat atau negara lain untuk meniru atau membangun yang lebih megah dan canggih. Ellen justru mengedepankan 5 faktor kritis dan kiat sukses untuk menjaga SOF tetap pada koridor visi dan misi edukasinya, yaitu:
1. melibatkan dan menjalin komunitas belajar
2. mengawal kurikulum yang sesuai dengan harapan masyarakat
3. menjaga fleksibilitas dan kesinambungan lingkungan belajar
4. memadukan berbagai keunggulan kurikulum untuk diteliti dan dikembangkan
5. kepemimpinan professional
Sekolah yang dipimpin oleh Chief of Learner (tidak menggunakan istilah Principal atau Headmaster sebagaimana umumnya) ini terdiri dari 4 lantai dengan fasilitas:
1. Performance Center di lantai bawah tanah (underground floor)
2. Main Entrance, Streetscape, Interactive Learning Center, Gymnasium, Food Court, dan Science Lab di lantai 1 (1st floor)
3. Art Studio, IT & Web Design Lab di lantai 2 (2nd floor)
4. General Classrooms di lantai 3 (3rd floor)
Setiap ruang kelas dan lab pada umumnya didominasi warna hitam dan putih bersih serta kaca transparan, meja dan kursi belajar beroda sehingga posisi duduk siswa dapat diubah-ubah secara flexible dan mobile sesuai kenyamanan belajar, lampu penerangan yang cukup, perangkat sistem audio-video, 1-2 unit LCD data projector, 1-2 buah whiteboard, dan akses intranet/internet nirkabel yang lebar serta cepat di seluruh lantai dan area kampus SOF.
Setiap siswa dibekali 1 unit notebook mungil merek Gateway yang tentunya bersistem operasi Microsoft Windows XP (akan di-upgrade ke Vista), Microsoft Office, Microsoft Student/Encarta dan aplikasi lain yang mendukung proses belajar siswa di kelas dan di rumah. Siswa juga memiliki Smart Card yang berfungsi sebagai kartu presensi kelas, voucher breakfast/lunch di food court, kartu perpustakaan, kunci locker, kunci akses ke ruang-ruang kelas yang diperkenan bagi siswa secara sistem.
Guru sudah tentu membekali diri dengan notebook yang sama dengan siswa, hanya bedanya di hak akses dan manajemen datanya yang tersentral di server SOF. Pada saat mengajar, guru menggunakan clip-on microphone agar instruksinya jelas dan merata terdengar siswa di kelas/lab.
Untuk mendukung kinerja 800-an notebook civitas SOF, disediakan 1 Tim Helpdesk yang siap membantu siswa dan guru jika mengalami masalah dengan notebook masing-masing.
Sesuai konvensi tata bangunan di Pennsylvania, setiap ruang/lab di SOF juga ditandai dengan papan nama seukuran 10cm x 15cm yang bertuliskan nama ruang/lab dengan huruf Alphabet dan huruf Braille. Ini menandakan kepedulian masyarakat Amerika Serikat pada hak-hak belajar bagi penyandang tuna netra sangat tinggi. Demikian pula ketersediaan jalan dan elevator akses bagi siswa penyandang cacat tubuh (berkursi roda) di kampus SOF.
Saya sempat terkagum dengan kelas yang menurut kita mungkin “tawar” untuk ukuran standard kelas kita di Indonesia atau di mana pun, karena tidak “diformalkan” dengan gambar lambang negara, presiden dan wakil presiden, apalagi gambar-gambar poster dan tempelan portofolio siswa yang menghiasi dinding kelas kita. Filosofi SOF memang sederhana tetapi elegan, menurut mereka jika di dalam notebook sudah tersedia sumber sekaligus media belajar yang mutakhir, menarik dan menyenangkan siswa serta dapat menyimpan semua hasil (portofolio) siswa dalam format digital, mengapa hardcopy-nya perlu ditempelkan dan ditampilkan sebagai “pemanis” dinding kelas/lab?
Satu lagi yang menarik, mereka memiliki 1 unit Life Skill Lab yang isinya semua peralatan rumah tangga berupa peralatan dapur, kulkas, mesin cuci piring/gelas, mesin cuci pakaian, meja setrika, model kamar mandi, WC, dan perangkat rumah tangga lainnya. Saya jadi teringat pelajaran PKK di SD dulu, sehingga waktu mondok di indekost-an atau di dormitory (di luar negeri) dulu tidak mengalami kesulitan berarti, karena semua pekerjaan rumah tangga dapat saya lakukan. Disinilah mungkin persepsi life skill kita berbeda dengan SOF.
Memiliki notebook tidak berarti mengabaikan buku, karenanya SOF menyediakan ratusan buku-buku berkualitas di Interactive Learning Center untuk dibaca di center atau dipinjam untuk dibaca di rumah. Bahkan tradisi membaca ini boleh membuat kita iri, karena selain notebook, mereka juga membawa beberapa buku di dalam backpack (tas ransel) untuk dibaca saat di perjalanan bus atau trem serta saat usai makan siang di taman-taman kota. Artinya masih ada ‘homework’ bagi siswa SOF di rumah, karena rumah juga sekolah (extra school) bagi mereka.
Inilah e-school yang diproyeksikan sebagai model Sekolah Abad 21 di Amerika Serikat, dimana ‘e-learning’ telah mencapai dimensi ‘m-learning’ (mobile learning) yang sesungguhnya. Dan tidak mustahil pula fleksibilitas tanpa batas-nya ‘u-learning’ (ubiquitous learning) beberapa bulan mendatang akan menjadi platform belajar baru yang akan menggantikan m-learning.
“Keep on dreaming, and forcing us to dream too.” – demikian tantangan Bill Gates (Chief of Architects, Microsoft Corporation) dalam membuka SOF Philadelphia.
SOF boleh jadi merupakan mimpi kita di Indonesia, tetapi suatu keniscayaan untuk kita wujudkan bersama. Bukankah bersama kita bisa?
[ditulis di atas Lautan Atlantik dalam penerbangan China Airlines C-0006 Los Angeles - Taipei]
Lawatan ke Masa Depan Pendidikan
Pada 9-11 November 2006 yang lalu, saya bersama Sri Rahayu Ningsih (Guru SMAN 67 Jakarta) dan Asep Zaenal Rahmat (Guru SMAN 5 Bogor) serta Ismail Syah - Academic Program Manager (APM) Microsoft Indonesia berkesempatan memenuhi undangan Gerri Elliott (Corporate Vice President, Public Sector, Microsoft Corporation) untuk mengikuti Microsoft Worldwide Innovative Teachers Forum di Philadelphia, USA. Diantara agenda forum adalah kunjungan ke School Of the Future di Kota Philadelphia. Forum ini merupakan bagian dari program Microsoft Partners in Learning (PiL) internasional yang dihadiri oleh 32 negara dari 101 negara peserta program PiL di seluruh dunia.
Bertepatan pada Hari Pahlawan 10 November 2006, selepas buffet lunch di Regency A Foyer Loews Hotel Philadelphia (USA), saya bersama sekitar 70-an guru yang diundang Microsoft Corporation berangkat dengan 2 bus menuju lokasi School Of the Future (SOF) yang berjarak tempuh sekitar 25 menit dari hotel.
SOF yang diproyeksikan menjadi model sekolah menengah (K-9 & K-12) ini telah menerima sekitar 750 siswa dari 4000-an pendaftar pada bulan September 2006 yang lalu. SOF sendiri adalah gedung sekolah baru yang megah dan (tentunya) canggih ini berlokasi di sebelah Barat Kota Philadelphia yang dikenal sebagai lokasi perumahan dan pertamanan tua yang sangat bersejarah.
Kurikulum SOF adalah kurikulum komprehensif yang sama dengan sekolah-sekolah setingkat di Negara bagian Pennsylvania. Proyek yang didanai oleh School District of Philadelphia Capital Improvement Project ini menghabiskan biaya sekitar $ 50 juta (termasuk bangunan, prasarana dan sarananya) serta mendapat kontribusi primer berupa SDM dan dukungan pengembangan kemitraan dari Microsoft (termasuk sistem dan infrastruktur berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang ‘ditabur’ dan ‘ditanam’ di gedung SOF). SOF merupakan proyek prestisius yang diharapkan dapat mendorong pengembangan sekolah sejenis di Amerika Serikat dan seluruh dunia, setidaknya dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain dalam mengembangankan sekolah yang inovatif.
Untuk mempertahankan lingkungan pendidikan dan tradisi belajar masyarakat, SOF telah menetapkan prinsip-prinsip strategis:
1. dimana pembelajaran tidak terikat pada ruang dan waktu,
2. dimana materi pelajaran, kurikulum dan perangkat belajar mengajar senantiasa mutakhir & relevan, dan
3. dimana pembelajaran diadaptasi sesuai keinginan individual setiap siswa.
Dengan bervisi sebagai komunitas pemberdayaan manusia dimana proses pembelajaran senantiasa berkesinambungan, relevan dan adaptif. SOF menetapkan misinya sebagai sekolah masa depan yang: (1) menerapkan hasil penelitian dan pengembangan untuk memperkaya pengalaman praktis di bidang pendidikan, (2) menciptakan sebuah lingkungan belajar yang melibatkan seluruh civitas sekolah, dan (3) mendorong civitas sekolah untuk senantiasa menjaga semangat belajar, (4) menanamkan tanggung jawab pribadi siswa untuk belajar, dan (5) menginspirasi masyarakat untuk tetap berkomitmen dan terlibat aktif di dalam kegiatan pendidikan.
Ellen Savitz, Chief Development Officer SOF dengan lugas menegaskan kepada kita semua bahwa SOF tidak perlu digumuni (ditakjubi) karena megah dan canggihnya gedung sekolah berlantai 4 tersebut. Karena hal itu memang bukanlah sesuatu yang perlu dibanggakan, karena tidak sulit bagi negara-negara federal lain di Amerika Serikat atau negara lain untuk meniru atau membangun yang lebih megah dan canggih. Ellen justru mengedepankan 5 faktor kritis dan kiat sukses untuk menjaga SOF tetap pada koridor visi dan misi edukasinya, yaitu:
1. melibatkan dan menjalin komunitas belajar
2. mengawal kurikulum yang sesuai dengan harapan masyarakat
3. menjaga fleksibilitas dan kesinambungan lingkungan belajar
4. memadukan berbagai keunggulan kurikulum untuk diteliti dan dikembangkan
5. kepemimpinan professional
Sekolah yang dipimpin oleh Chief of Learner (tidak menggunakan istilah Principal atau Headmaster sebagaimana umumnya) ini terdiri dari 4 lantai dengan fasilitas:
1. Performance Center di lantai bawah tanah (underground floor)
2. Main Entrance, Streetscape, Interactive Learning Center, Gymnasium, Food Court, dan Science Lab di lantai 1 (1st floor)
3. Art Studio, IT & Web Design Lab di lantai 2 (2nd floor)
4. General Classrooms di lantai 3 (3rd floor)
Setiap ruang kelas dan lab pada umumnya didominasi warna hitam dan putih bersih serta kaca transparan, meja dan kursi belajar beroda sehingga posisi duduk siswa dapat diubah-ubah secara flexible dan mobile sesuai kenyamanan belajar, lampu penerangan yang cukup, perangkat sistem audio-video, 1-2 unit LCD data projector, 1-2 buah whiteboard, dan akses intranet/internet nirkabel yang lebar serta cepat di seluruh lantai dan area kampus SOF.
Setiap siswa dibekali 1 unit notebook mungil merek Gateway yang tentunya bersistem operasi Microsoft Windows XP (akan di-upgrade ke Vista), Microsoft Office, Microsoft Student/Encarta dan aplikasi lain yang mendukung proses belajar siswa di kelas dan di rumah. Siswa juga memiliki Smart Card yang berfungsi sebagai kartu presensi kelas, voucher breakfast/lunch di food court, kartu perpustakaan, kunci locker, kunci akses ke ruang-ruang kelas yang diperkenan bagi siswa secara sistem.
Guru sudah tentu membekali diri dengan notebook yang sama dengan siswa, hanya bedanya di hak akses dan manajemen datanya yang tersentral di server SOF. Pada saat mengajar, guru menggunakan clip-on microphone agar instruksinya jelas dan merata terdengar siswa di kelas/lab.
Untuk mendukung kinerja 800-an notebook civitas SOF, disediakan 1 Tim Helpdesk yang siap membantu siswa dan guru jika mengalami masalah dengan notebook masing-masing.
Sesuai konvensi tata bangunan di Pennsylvania, setiap ruang/lab di SOF juga ditandai dengan papan nama seukuran 10cm x 15cm yang bertuliskan nama ruang/lab dengan huruf Alphabet dan huruf Braille. Ini menandakan kepedulian masyarakat Amerika Serikat pada hak-hak belajar bagi penyandang tuna netra sangat tinggi. Demikian pula ketersediaan jalan dan elevator akses bagi siswa penyandang cacat tubuh (berkursi roda) di kampus SOF.
Saya sempat terkagum dengan kelas yang menurut kita mungkin “tawar” untuk ukuran standard kelas kita di Indonesia atau di mana pun, karena tidak “diformalkan” dengan gambar lambang negara, presiden dan wakil presiden, apalagi gambar-gambar poster dan tempelan portofolio siswa yang menghiasi dinding kelas kita. Filosofi SOF memang sederhana tetapi elegan, menurut mereka jika di dalam notebook sudah tersedia sumber sekaligus media belajar yang mutakhir, menarik dan menyenangkan siswa serta dapat menyimpan semua hasil (portofolio) siswa dalam format digital, mengapa hardcopy-nya perlu ditempelkan dan ditampilkan sebagai “pemanis” dinding kelas/lab?
Satu lagi yang menarik, mereka memiliki 1 unit Life Skill Lab yang isinya semua peralatan rumah tangga berupa peralatan dapur, kulkas, mesin cuci piring/gelas, mesin cuci pakaian, meja setrika, model kamar mandi, WC, dan perangkat rumah tangga lainnya. Saya jadi teringat pelajaran PKK di SD dulu, sehingga waktu mondok di indekost-an atau di dormitory (di luar negeri) dulu tidak mengalami kesulitan berarti, karena semua pekerjaan rumah tangga dapat saya lakukan. Disinilah mungkin persepsi life skill kita berbeda dengan SOF.
Memiliki notebook tidak berarti mengabaikan buku, karenanya SOF menyediakan ratusan buku-buku berkualitas di Interactive Learning Center untuk dibaca di center atau dipinjam untuk dibaca di rumah. Bahkan tradisi membaca ini boleh membuat kita iri, karena selain notebook, mereka juga membawa beberapa buku di dalam backpack (tas ransel) untuk dibaca saat di perjalanan bus atau trem serta saat usai makan siang di taman-taman kota. Artinya masih ada ‘homework’ bagi siswa SOF di rumah, karena rumah juga sekolah (extra school) bagi mereka.
Inilah e-school yang diproyeksikan sebagai model Sekolah Abad 21 di Amerika Serikat, dimana ‘e-learning’ telah mencapai dimensi ‘m-learning’ (mobile learning) yang sesungguhnya. Dan tidak mustahil pula fleksibilitas tanpa batas-nya ‘u-learning’ (ubiquitous learning) beberapa bulan mendatang akan menjadi platform belajar baru yang akan menggantikan m-learning.
“Keep on dreaming, and forcing us to dream too.” – demikian tantangan Bill Gates (Chief of Architects, Microsoft Corporation) dalam membuka SOF Philadelphia.
SOF boleh jadi merupakan mimpi kita di Indonesia, tetapi suatu keniscayaan untuk kita wujudkan bersama. Bukankah bersama kita bisa?
[ditulis di atas Lautan Atlantik dalam penerbangan China Airlines C-0006 Los Angeles - Taipei]
Thursday, April 19, 2007
Menggagas UN Online
Sedari awal saya menandaskan ketidaksetujuan terhadap yang namanya UN, melihat sistemnya saja sudah menyesakkan ditambah lagi dengan prosesnya yang njelimet,pas ditambah pas waktu pelaksanaan banyak yang mengecewakan, guru digebuki sekolah ditimpuki, siswa diclurit wah pokoknya gak educated banget deh, belum lagi soal yang bocor dengan beredarnya sms jawaban semakin menyudutkan UN tidak lagi cocok sebagai penentu kelulusan siswa.
Akan tetapi harus ada solusi untuk mengatasinya, walaupun saya tidak setuju UN Konvensional karena banyak sekali kelemahan seperti kebocoran, transportasi, proses scannung dll. saya mengusulkan UN Online, apa itu UN Online please call me
0818252614
Akan tetapi harus ada solusi untuk mengatasinya, walaupun saya tidak setuju UN Konvensional karena banyak sekali kelemahan seperti kebocoran, transportasi, proses scannung dll. saya mengusulkan UN Online, apa itu UN Online please call me
0818252614
Subscribe to:
Posts (Atom)