Monday, April 23, 2007

Guruku Sekarat by Radon

Guruku Sekarat

Di Straits Times Selasa lalu, ada berita di halaman depan yang langsung menarik perhatian saya. Tertulis “$250m package to make teaching more attractive.” Ya, S$250 juta untuk peningkatan mutu pendidikan selama 3 tahun ini di Singapore, katanya.

Ini tentunya salah satu upaya pemerintah Singapore untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Mereka ingin menarik sebanyak mungkin minat lulusan-lulusan universitas yang berkualitas, dan juga menahan guru-guru muda yang bagus agar tetap mengajar di sekolah. Karena bagi kelompok yang kedua, banyak yang kemudian meninggalkan profesi mengajarnya dan mengejar karir sebagai profesional.

Uang sebanyak S$250 juta itu salah satunya untuk peningkatan pembayaran insentif atau bonus. Dituliskan, jumlah bonus sampai dengan S$160 ribu akan pindah tangan bagi guru-guru yang bisa bertahan sampai dengan masa pensiun. Selain itu, pembayaran gaji penuh untuk mereka yang cuti untuk pengembangan kualitas diri, misalnya untuk melanjutkan program masternya. Penggantian pengeluaran pribadi untuk urusan pendidikan bisa diklaim sampai dengan S$400-S$700 setiap tahunnya. Masih banyak lagi daftar fasilitas-fasilitas yang dijanjikan MOE (Ministry of Education), yang kalau saya lanjutkan akan membuat guru-guru Indonesia nggak tega untuk melanjutkan membaca tulisan ini.

Padahal kalau di Depok, gaji pokok guru swasta yang mengajar 20 jam sepekan hanya 660 ribu. Itu pun nggak ada tunjangan. Guru-guru Jakarta dalam hal ini lebih beruntung dengan tunjangan 2 jutanya. Memang masalah besaran gaji sangat tergantung pada daerahnya. Depok saja yang dekat dengan Jakarta masih separah itu, lalu bagaimana dengan di Manokwari?

Bisa jadi inilah alasan dari 2 kejadian yang saya alami selama sekolah di Indonesia. Yang pertama ketika dulu di kelas 1 SMA. Di salah satu pelajaran di kelas, seorang guru bertanya ke semua anak di kelas saya, “siapa yang punya cita-cita jadi guru?” Secara mengejutkan—walau sebenarnya bisa ditebak—hanya 2 orang termasuk saya yang mengangkat tangan saat itu. Teman-teman saya yang lainnya menatap kami berdua seperti melihat spesies langka temuan baru. Barangkali kalau guru saya waktu itu melanjutkan dengan menananyakan alasannya, akan terdengar koor serempak dari anak-anak satu kelas, “gajinya Pak!!!”

Lalu, kejadian kedua menyangkut masalah kualitas guru. Yang ini masih sangat lekat di memori saya. Lagi-lagi di SMA. Saat itu, karena ada ulangan, guru saya meminta ketua kelas atau bendahara untuk mengumpulkan Rp 500,00 per anak untuk biaya tes. Dalam bayangan saya—dan juga teman-teman semua—sehabis tes, lembar fotokopian soal akan dibagikan. Kami tunggu, kami tunggu, dan kami tunggu. Sampai terakhir, malah dikumpulkan kembali. Dan, fotokopian itu dipakai untuk ulangan di kelas-kelas lainnya! Bisa Anda bayangkan—respek kami hilang terhadap guru itu. Bukan cuma satu kelas, tapi satu angkatan!

Di sini yang agak susah. Beberapa teman saya mungkin akan memaklumi tindakan guru itu, mengingat beliau laki-laki; punya keluarga, punya tanggungan. Mana cukup dengan gaji pegawai negeri biasa? Nah, di sini yang menurut saya menjadi penting. Kualitas seorang guru bagaimana pun akan dipengaruhi gajinya. Bagi Anda sendiri, mungkin banyak kisah-kisah serupa, saat guru-guru Anda berani mengorbankan harga dirinya untuk uang yang nggak seberapa. Mereka membeli kepercayaan dan respek murid-muridnya dengan uang 200 atau 300 ribu! Dan, saya nggak percaya bahwa murid akan menerima begitu saja pelajaran dari guru-guru yang sudah sama sekali tidak dihormati.

Ada tulisan menarik di Kompas yang menyebut mengenai lingkaran setan kualitas guru. Mengapa kualitas guru rendah? Karena gajinya rendah. Karena gajinya rendah, profesi guru menjadi nggak menarik bagi lulusan-lulusan terbaik anak bangsa. Lulus SMA, lebih banyak yang memilih untuk melanjutkan studi di teknik, kedokteran, ekonomi, dan sebagainya. Jarang yang meneruskan ke IKIP. IKIP-IKIP pun banting setir menjadi universitas untuk meningkatkan gengsinya. Bahkan UPI (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung) sering dipelesetkan menjadi “universitas, padahal IKIP”. Akhirnya generasi-generasi Indonesia pun hanya dibesarkan oleh lulusan-lulusan yang bukan kelas satu.

Tapi, walau bagaimana pun saya tetap hormat sama guru-guru saya sendiri. Mereka sebenarnya orang-orang yang luar biasa. Terkadang, kita bisa melihat pancaran keikhlasan dari setiap ucapannya, atau dari binar matanya.

Saya ingat, guru saya di SD lah yang waktu itu mengecek hapalan propinsi-propinsi di Indonesia beserta ibukotanya. Jadi, saat itu tiap anak disuruh maju satu-satu dan menyebutkannya dari ujung barat sampai timur. Guru SD saya juga lah yang dulu setiap sebelum pulang menyuruh anak-anak untuk menyebut keras-keras asmaul husna. Hapalan itu ditambah satu demi satu setiap harinya.

Kalau bukan karena penjelasan guru SMP, kita sekarang nggak akan mengerti tentang rantai makanan, rumus Q=mc∆t, atau tentang konsep Pelita (Pembangunan Lima Tahun). Rentetan pelajaran dari guru-guru SD, SMP, SMA lah yang membuat kita hapal tentang tahunnya perang Diponegoro, 1825-1830. Mereka lah yang membentuk konsep pemahaman kita tentang banyak hal-hal yang mendasar.

Iya, memang orang Indonesia masih lebih senang memuji mereka daripada memberikan sesuatu buat mereka. Seperti pada alunan lagu ini

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa

Dalam menyanyikannya, kita menyebut kata “pahlawan bangsaaaa ..” dengan panjang sampai dengan napas terakhir, dan melanjutkan “tanpa tanda jasa” dengan bisik-bisik, dengan sisa napas kita. Memang begitulah. Tanda jasa tak ada, gaji pun secukupnya.

Padahal, yang menginspirasi penerapan beberapa fasilitas tambahan bagi guru-guru Singapore adalah ucapan Lee Hsien Loong, “everything about our vision for education—every niche, every area of excellence, every approach to cater to a different learning style—is really about teachers.”

Singapore,
Kamis malam, 7 September 2006
Rekomendasi bacaan:
Meningkatkan Mutu Guru, Dari Mana Dimulai? Kompas
Menunggu Kematian Guru De Britto
Agustus, Gaji Guru Sekitar 4 Juta ITS

No comments: